Kamis, 22 Agustus 2024, mahasiswa KKL IAIN Pontianak dan KKP UIN Mataram yang diwakili oleh Yazidil Bustami, mahasiswa Prodi Hukum Ekonomi Syariah (Muamalah) melakukan kunjungan ke Makam Juang Mandor di Kabupaten Landak, Kalimantan Barat dalam rangka mengenang perjuangan para pahlawan dan menimba ilmu sejarah perjuangan para pahlawan bangsa. “Kunjungan ini bertujuan untuk memperkaya wawasan sejarah mahasiswa dan menanamkan rasa cinta tanah air melalui pengenalan terhadap peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah bangsa, khususnya tragedi Mandor”. Jelas Bustami.
Makam Juang Mandor merupakan tempat bersejarah yang menjadi saksi bisu dari peristiwa tragis yang terjadi pada tahun 1942-1945, di mana lebih dari 21.037 orang, termasuk ulama, tokoh masyarakat, dan cendekiawan, dibantai secara massal oleh tentara Jepang. Di dalam situs tersebut terdapat 10 makam, di mana makam 1-9 merupakan makam rakyat biasa dari berbagai kalangan dan etnis di Kalimantan Barat dan makam ke 10 adalah makam tempat pembantaian para Raja dan orang-orang yang berpengaruh di Kalimantan Barat saat itu. Mereka yang dimakamkan di sini adalah para pahlawan yang berani menentang penindasan dan mempertahankan kehormatan serta martabat bangsa di tengah ancaman penjajahan.


Ziarah ini dimulai dengan perjalanan panjang menuju Mandor, yang terletak sekitar 88 kilometer dari Pontianak. Sesampainya di sana, pertama-tama kita akan disambut dengan tugu yang di bagian kiri dan kanannya terdapat dinding beton besar berlapis marmer dengan relief yang bergambarkan betapa kejamnya tentara jepang pada saat itu.
Selama kunjungan, rombongan mahasiswa dipandu oleh juru kunci makam, Bapak Uca Suherman, ia memberikan panduan kepada rombongan mahasiswa. Ia menceritakan sejarah kelam yang melatarbelakangi pendirian makam ini, mengisahkan bagaimana para korban dijemput dari rumah-rumah mereka, dibawa ke tempat ini, dan dieksekusi secara massal oleh tentara Jepang. “Mereka adalah orang-orang yang sangat disegani di masyarakat. Banyak dari mereka yang memilih untuk melawan meski tahu bahwa itu akan berakhir dengan kematian,” ujar Bapak Uca Suherman.
Salah satu kisah paling menyentuh yang mereka dengar adalah tentang dokter Rubini, seorang dokter yang dikenal karena keberanian dan dedikasinya dalam melayani masyarakat di tengah ancaman penjajah. Dokter Rubini, adalah seorang dokter yang sangat dihormati di Kalimantan Barat. Ia dikenal tidak hanya karena keahliannya dalam bidang medis, tetapi juga karena sikap tegasnya menentang kebijakan penjajah Jepang yang dianggap merugikan rakyat. Sebagai seorang dokter, Rubini sering kali mengkritik tindakan-tindakan kejam yang dilakukan oleh tentara Jepang terhadap penduduk lokal, termasuk penyiksaan dan eksekusi tanpa pengadilan. Hal ini membuatnya menjadi target utama Jepang, yang menganggapnya sebagai ancaman besar.
Jepang kemudian melakukan siasat licik dengan hanya menyisakan 3 dokter di luar pontianak, yaitu Sintang, Sanggau dan Ketapang. Hal itu dilakukan Jepang, agar masyarakat awam terpisahkan dari cendekiawan-cendekiawan dan pemuka masyarakat. Kehadiran Jepang kala itu membuat keadaan sangat rumit, bahkan organisasi dan partai-partai yang sudah terbentu pelan-pelan dibubarkan. Namun, Rubini dengan cerdik justru malah berpura-pura bekerja-sama dengan Jepang agar organisasi politik binaannya tidak terbongkar. Di sisi lain, Rubini menerima laporan perbuatan kejam tentara Jepang yang memperkosa dan menyiksa perempuan dan anak-anak di Kalimantan Barat. Rubini pun turut melakukan perawatan terhadap korban kekerasan tersebut, baik di rumah sakit maupun rumah praktik miliknya. Hal itulah yang membuatnya bertekad untuk melawan penindasan yang dilakukan Jepang. Namun, nahasnya, upaya aksi perlawanan yang disiapkan Rubini diketahui oleh mata-mata Jepang. Hingga akhirnya, Rubini pun tertangkap pada tahun 1944 dan dieksekusi mati.
Bapak Uca Suherman, juru kunci Makam Juang Mandor, dengan penuh semangat menceritakan bagaimana dokter Rubini berjuang hingga akhir hayatnya. “Beliau adalah simbol keberanian dan kemanusiaan. Meskipun tahu dirinya dalam bahaya, dokter Rubini tetap berani menentang penjajah demi melindungi rakyatnya. Pengabdian beliau tidak hanya sebatas sebagai seorang dokter, tetapi juga sebagai pemimpin moral yang berani mempertaruhkan nyawanya demi keadilan,” jelas Bapak Uca Suherman kepada para mahasiswa.
Para mahasiswa tampak terdiam merenungi kisah-kisah tersebut, menyadari bahwa mereka sedang berdiri di atas tanah yang sarat dengan sejarah perjuangan dan pengorbanan. Kunjungan ini bukan sekadar menggali peristiwa sejarah, tetapi juga menjadi momen refleksi tentang pentingnya mempertahankan nilai-nilai yang diwariskan oleh para pendahulu.
“Ziarah ini benar-benar membuka mata kami, betapa mahalnya kemerdekaan yang kita nikmati saat ini. Para pahlawan yang dimakamkan di sini memberikan hidup mereka demi masa depan yang lebih baik bagi kita semua. Mereka tidak hanya berjuang untuk kebebasan, tetapi juga untuk menjaga kehormatan dan martabat bangsa. Ini adalah pelajaran yang sangat berharga bagi kami sebagai generasi muda. Ini adalah pengingat bagi kami untuk terus menjaga dan memperjuangkan nilai-nilai yang mereka tinggalkan,” ujar Yazidil Bustami, mahasiswa Prodi Hukum Ekonomi Syariah (Muamalah) UIN Mataram setelah mendengarkan penjelasan dari juru kunci tersebut.
Para mahasiswa KKL IAIN Pontianak dan KKP UIN Mataram menyadari bahwa ziarah ini lebih dari sekadar kunjungan rutin, ini adalah pelajaran hidup yang membangkitkan kesadaran tentang pentingnya mempertahankan nilai-nilai kebangsaan, keberanian, dan kemanusiaan.

Sebagai penutup ziarah di makam Juang Mandor di Kabupaten Landak, Kalimantan Barat yang berlokasi di Jl. Kemarian ini, para mahasiswa mengadakan do’a bersama, memohon agar arwah para pahlawan yang gugur dalam Tragedi Mandor, termasuk Dokter Rubini dan istrinya, diterima di sisi-Nya. Ziarah ini bukan hanya memperkaya pengetahuan mereka tentang sejarah, tetapi juga menginspirasi mereka untuk menjadi generasi yang lebih peduli dan siap berjuang demi kebaikan bersama.
IAIN Pontianak dan UIN Mataram berharap bahwa kunjungan ini dapat menjadi fondasi bagi para mahasiswa untuk memahami dan menghargai warisan sejarah, serta menerapkan nilai-nilai kebangsaan dan kemanusiaan dalam kehidupan mereka sehari-hari. Melalui kegiatan seperti ini, semangat perjuangan para pahlawan akan terus hidup dan menginspirasi generasi-generasi mendatang. Wallahu a’lam.