Salah satu kegiatan tambahan mahasiswa Kuliah Kerja Lapangan (KKL) mahasiswa IAIN Pontianak dan KKP UIN Mataram adalah mengadakan ziarah ke tiga lokasi bersejarah dan religius di Kabupaten Mempawah pada hari Selasa 13 Agustus 2024. Kunjungan ini mencakup ziarah ke Makam Habib Husein Al Kadri, Keraton Mempawah, dan Makam Opu Daeng Manambon. Kegiatan ini bertujuan untuk mengenang jasa para tokoh besar dalam sejarah Islam dan budaya di Kalimantan Barat serta memperdalam nilai-nilai spiritual mahasiswa.
Kunjungan pertama dilakukan di Makam Habib Husein Al Kadri, seorang ulama besar dan penyebar Islam yang sangat dihormati di Mempawah. Para mahasiswa dengan khidmat melaksanakan doa bersama, memohon berkah dan merenungkan perjuangan Habib Husein Al Kadri dalam menyebarkan ajaran Islam di daerah ini. “Ziarah ini mengingatkan kami akan pentingnya dakwah dan keteladanan yang diberikan oleh para ulama dalam menyebarkan agama Islam,” ujar Husnul Haliqin, selaku Koordinator KKL.
Setelah berziarah di makam Habib Husein, para mahasiswa melanjutkan perjalanan ke Keraton Mempawah, tempat yang sarat dengan sejarah kerajaan di Kalimantan Barat. Di sana, mereka disambut oleh juru kunci keraton yang memberikan penjelasan tentang sejarah berdirinya Kerajaan Mempawah dan peran penting keraton dalam menyebarkan ajaran Islam dan menjaga adat istiadat di wilayah ini. Para mahasiswa tampak antusias mendengarkan penjelasan tersebut dan mengamati koleksi peninggalan sejarah yang ada di keraton.

Ziarah terakhir dilakukan di Makam Opu Daeng Manambon, Kawasan Makam Opu Daeng Manambom terletak di Sebukit Rama atau sekitar 5 km dari Desa Pasir, Kecamatan Mempawah hilir, Pontianak, Kalimantan Barat. Untuk sampai pada makam Opu Daeng Manambong beserta kerabat, harus mendaki bukit dengan 255 anak tangga. Konon kata pengunjung dan juru kunci makam, jumlah anak tangga bila dihitung dari naik maupun turun, jumlahnya selalu berbeda. “Jika ada yang menghitung anak tangga sewaktu naik dan turun jumlahnya sama, berarti ada keberuntungan, keistimewaan, dan sejenisnya pada orang tersebut,” ujar juru kunci makam, Abdul Hamid.
Hal ini memicu rasa penasaran salah satu anggota KKP UIN Mataram yang bernama Eka. Ketika Eka mencoba menghitung, entah kebetulan atau ada kemungkinan lainnya, menunjukkan bahwa jumlah anak tangganya berbeda, jumlah naik dan turun selisih 4 anak tangga. Hal ini memicu minat dan penasaran pengunjung untuk datang ke Makam Opu Daeng Manambon.
Makam ini memiliki beberapa bangunan di antaranya, Opu Daeng Manambong dan Syech M. Shaleh, Panglima Hitam dan Raden Patih Gumentar, Putri Ayu dan Indra Jaya. Makam Opu Daeng Manambon sendiri menjadi agenda utama kunjungan Raja Mempawah saat melaksanakan prosesi “Robo-Robo” yang dihelat setiap tahunnya pada hari Rabu terakhir di bulan Safar.” jelas juru kunci makam.
Upacara Robo-Robo sendiri merupakan ritual untuk memperingati napak tilas perjalanan Opu Daeng Menambon. Selain itu, Robo-Robo digelar sebagai upaya tolak bala karena masyarakat di sana memiliki kepercayaan bulan Safar banyak diturunkan bala.

Opu Daeng Manambon adalah putra dari Opu Tandre Borong Daeng Rilekke, Raja dari Kerajaan Luwu di Sulawesi Selatan yang menikah dengan Putri Kesumba. Putri Kesumba merupakan anak dari pasangan Utin Indrawati, putri Panembahan Senggaok, Mempawah dengan Sultan Muhamad Zainuddin dari Kerajaan Matan Tanjungpura. Pasangan Putri Kesumba dan Opu Daeng Manambun inilah yang kemudian menurunkan raja-raja yang memerintah di Kerajaan Mempawah, tokoh yang dikenal karena keberaniannya dalam membela agama dan adat istiadat lokal.
Di makam ini, mahasiswa kembali mengadakan doa bersama dan mendengarkan cerita tentang kepahlawanan Opu Daeng Manambon dalam memperjuangkan tanah Mempawah. “Kunjungan ini memberikan pelajaran berharga bagi kami tentang arti kepemimpinan, keberanian, dan dedikasi terhadap agama dan budaya,” Ujar Yazidil Bustami, mahasiswa Prodi Hukum Ekonomi Syariah (Muamalah) UIN Mataram.
Kegiatan ziarah ini tidak hanya memberikan pemahaman historis bagi para mahasiswa, tetapi juga memperdalam kesadaran spiritual mereka. Melalui kunjungan ke makam-makam tokoh besar ini, mereka diharapkan dapat meneladani semangat dan perjuangan para pendahulu dalam menegakkan agama dan menjaga warisan budaya.
Mahasiswa KKL IAIN Pontianak dan mahasiswa KKP UIN Mataram berharap agar kegiatan ziarah semacam ini dapat terus dilakukan sebagai bagian dari pembelajaran dan penguatan karakter mahasiswa, sehingga mereka tidak hanya unggul dalam akademis tetapi juga memiliki kedalaman spiritual dan kepedulian terhadap sejarah dan budaya bangsa.